KELEDAI NABI UZAIR
"Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?" Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya: "Berapa lama kamu tinggal di sini?" Ia menjawab: "Saya telah tinggal di sini se hari atau setengah hari". Allah berfirman: "Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah kpd makanan dan minumanmu yang belum lagi berubah; dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi tulang belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging". Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) diapun berkata: "Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu". (QS:Al-Baqara/2:256-259)
Aku adalah keledai Nabi Uzair, aku selalu menemani Nabi Uzair kemanapun, dari rumah pagi hari, ke kebun apelnya, sampai pulang kembali ke rumahnya.
Kami beristirahat sejenak pada saat itu, ketika kami ingin pulang kembali ke rumah, di bawah pohon, Nabi Uzair meminum anggur dan sepotong roti dan di biarkanlah aku merumput pergi berjalan disekitar tempat Nabi Uzair beristirahat. Terlintas di benak Tuanku Nabi Uzair, “bagaimana Allah menghidupkan alam ini setelah kematiannya ?”
Setelah berfikir seperti itu, kami berdua terasa sangat mengantuk, dan tertidur.
Lalu aku mendengar suara agung, tak kulihat tuanku Nabi Uzair, suara dari cahaya suci, dan suara itu bertanya,”Berapa lama aku tertidur?”
Tak kudengar jawaban dari tuanku Nabi Uzair, hanya suara gaib mengatakan,”Kau tertidur selama seratus tahun. Lihatlah! Lihatlah! Mayat keledaimu yang menjadi debu, perlahan berubah menjadi tulang, perlahan-lahan tulang diliputi darah dan daging, kemudian tertutupi kulit, dan bulu-bulunya menutupi kulitnya. Bangkitlah keledai yang telah seratus tahun tertidur.”
Aku bangkit sekejap setelah suara gaib membangkitkanku, barulah kulihat tuanku Nabi Uzair memandangku dengan keheranan. Aku pun lebih keheranan lagi, tak kutemui jalan yang dulu pernah kami lalui berdua bersama tuanku Nabi Uzair.
Nabi Uzair berjalan mencari sanak keluarganya yang tersisa, maka ditunjukkanlah cucunya yang sudah berusia 60 tahun. Nabi Uzair kelihatan lebih muda dari cucunya, Nabi Uzair dibangkitkan dari tidurnya dengan usia 50 tahun.
Pada saat Nabi Uzair bangkit dari tidurnya, kitab taurat sudah banyak yang hilang dan tidak ada ditemukan dalam keadaan utuh, maka cucunya berkata,”Kalau memang benar engkau kakekku maka engkau mengetahui dimana engkau meletakkan kitab Taurat?”
“Aku menyimpan Taurat di pohon tua di padang rumput yang tinggi,”maka mereka menuju pohon yang di tunjuk Nabi Uzair, dimasukkanlah tangannya dilubang pohon tersebut dan ditemukanlah naskah Taurat yang asli.
Ditemui pula Hanim, pembantunya yang dulu pernah tinggal di rumahnya, sekarang telah berusia 120 tahun dalam keadaan buta, aku mencium inilah satu-satunya bau orang yang kukenal dulu, setelah bau Nabi Uzair.
Diusaplah matanya yang buta hingga mampu melihat kembali dan akupun ikut menitikkan airmata.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar